Polarisasi Sunni dan Syiah Untuk Kepentingan Kekuasaan

Sumber Foto: aswajadewata.com
“Bagi Muslim Syiah, peristiwa
Karbala pada tahun 680 M merupakan titik penting yang membentuk identitas politik, tragedi
tersebut sebagai simbol perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan kekuasaan.
Di banyak wilayah dunia Muslim, konflik Sunni–Syiah juga diperkuat oleh
struktur politik negara yang tidak stabil dan sering kali diperbesar oleh
kepentingan politik penguasa.”
Perpecahan antara
komunitas Muslim Sunni dan Syiah merupakan salah satu fenomena sosial-politik
dan teologis paling panjang dalam sejarah Islam. Walaupun secara teologis kedua
kelompok tersebut memiliki fondasi keimanan yang relatif sama—yaitu kepercayaan
kepada Al-Qur’an, Nabi Muhammad, serta prinsip dasar Islam—perbedaan dalam
persoalan kepemimpinan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad telah berkembang
menjadi konflik identitas, politik, dan ideologi yang berpengaruh besar dalam
sejarah dunia Islam hingga masa modern. Banyak studi menunjukkan bahwa konflik
Sunni–Syiah tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh
dinamika kekuasaan, propaganda politik, serta kepentingan geopolitik yang
berkembang sepanjang sejarah Islam (Nasr, 2006).
Akar historis perpecahan
Sunni dan Syiah umumnya ditelusuri pada perdebatan mengenai siapa yang berhak
memimpin komunitas Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M.
Sebagian sahabat Nabi mendukung Abu Bakar sebagai khalifah pertama melalui mekanisme
musyawarah di Saqifah, sementara kelompok lain meyakini bahwa kepemimpinan
seharusnya diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi
(Madelung, 1997). Kelompok yang mendukung Ali kemudian dikenal sebagai “Shi‘at
Ali” atau pengikut Ali, yang kemudian berkembang menjadi komunitas Syiah.
Sebaliknya, kelompok yang menerima legitimasi kepemimpinan khalifah awal tanpa
memandang garis keturunan tertentu berkembang menjadi mayoritas Muslim yang
kemudian dikenal sebagai Sunni (Madelung, 1997). Pada tahap awal sejarah Islam,
perbedaan tersebut belum sepenuhnya berkembang menjadi konflik teologis yang
tajam, namun dinamika politik pada masa kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah
secara bertahap memperkuat identitas sektarian tersebut.
Peristiwa Karbala pada
tahun 680 M merupakan titik penting yang membentuk identitas politik dan
religius Syiah. Dalam peristiwa tersebut, Husain bin Ali—cucu Nabi
Muhammad—terbunuh bersama pengikutnya setelah menolak legitimasi kekhalifahan
Yazid bin Muawiyah dari dinasti Umayyah. Bagi komunitas Syiah, tragedi Karbala
tidak hanya dipandang sebagai konflik politik, tetapi juga sebagai simbol
perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan kekuasaan (Halm, 2004). Narasi
tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam ritual keagamaan Syiah,
khususnya dalam peringatan Asyura. Sementara itu, dalam tradisi Sunni,
peristiwa Karbala tetap dipandang sebagai tragedi sejarah, namun tidak selalu
memiliki makna teologis yang sama sebagaimana dalam tradisi Syiah (Nasr, 2006).
Perbedaan interpretasi sejarah ini berkontribusi pada pembentukan identitas
kolektif yang berbeda antara kedua komunitas tersebut.
Namun demikian, sejumlah
peneliti menegaskan bahwa konflik Sunni–Syiah sering kali diperbesar oleh
kepentingan politik penguasa sepanjang sejarah Islam. Dinasti Umayyah dan
Abbasiyah misalnya menggunakan legitimasi religius untuk memperkuat kekuasaan
politik mereka, yang pada akhirnya memperdalam polarisasi antara kelompok Sunni
dan Syiah (Lapidus, 2014). Dalam banyak kasus, perbedaan teologis digunakan
sebagai alat propaganda untuk mendeligitimasi lawan politik. Hal ini
menunjukkan bahwa konflik sektarian dalam sejarah Islam tidak dapat dipahami
semata-mata sebagai konflik teologis, melainkan juga sebagai manifestasi dari
perjuangan kekuasaan dan legitimasi politik.
Pada periode modern,
dinamika konflik Sunni–Syiah semakin kompleks karena dipengaruhi oleh
perkembangan negara bangsa, geopolitik regional, dan persaingan ideologi
politik. Revolusi Iran tahun 1979, misalnya, memberikan dimensi baru dalam
hubungan Sunni–Syiah karena untuk pertama kalinya sebuah negara modern secara
eksplisit mengadopsi sistem pemerintahan berbasis doktrin Syiah. Revolusi
tersebut tidak hanya mengubah struktur politik Iran, tetapi juga mempengaruhi
persepsi politik di dunia Muslim, khususnya di negara-negara mayoritas Sunni
yang memandang revolusi tersebut sebagai tantangan ideologis terhadap tatanan
regional (Nasr, 2006). Akibatnya, ketegangan antara negara-negara yang
diasosiasikan dengan identitas Sunni dan Syiah sering kali diterjemahkan ke
dalam konflik geopolitik yang lebih luas.
Propaganda memainkan
peran penting dalam memperkuat perpecahan tersebut. Dalam banyak kasus, media,
kelompok politik, maupun aktor negara menggunakan retorika sektarian untuk
memobilisasi dukungan politik atau memperkuat identitas kelompok. Studi mengenai
konflik Timur Tengah menunjukkan bahwa retorika sektarian sering kali digunakan
untuk menciptakan solidaritas internal sekaligus mendemonisasi kelompok lain
(Lynch, 2013). Melalui propaganda tersebut, konflik politik atau geopolitik
sering dipresentasikan sebagai konflik teologis antara Sunni dan Syiah,
meskipun akar permasalahannya sering kali berkaitan dengan perebutan kekuasaan
atau kepentingan strategis.
Selain propaganda
politik, faktor sosial dan psikologis juga memainkan peran dalam mempertahankan
perpecahan tersebut. Identitas keagamaan sering kali menjadi bagian dari
identitas kolektif yang kuat dalam masyarakat Muslim, sehingga perbedaan
teologis dapat dengan mudah dimobilisasi untuk menciptakan solidaritas
kelompok. Menurut teori identitas sosial, individu cenderung mengidentifikasi
diri dengan kelompok tertentu dan membedakan diri dari kelompok lain, terutama
ketika identitas tersebut dikaitkan dengan sejarah konflik atau ketidakadilan
(Tajfel & Turner, 1979). Dalam konteks Sunni–Syiah, narasi sejarah, ritual
keagamaan, serta literatur polemik telah berkontribusi pada pembentukan batas
identitas yang relatif kuat antara kedua komunitas tersebut.
Di banyak wilayah dunia
Muslim, konflik Sunni–Syiah juga diperkuat oleh struktur politik negara yang
tidak stabil. Negara-negara dengan sistem politik yang lemah atau otoriter
sering kali memanfaatkan identitas sektarian sebagai alat untuk mempertahankan
kekuasaan atau mengalihkan perhatian publik dari persoalan ekonomi dan sosial.
Beberapa studi tentang konflik Irak pasca invasi Amerika Serikat tahun 2003
menunjukkan bahwa kehancuran struktur negara membuka ruang bagi mobilisasi
identitas sektarian yang sebelumnya relatif terkendali (Dodge, 2012). Dalam
situasi tersebut, kelompok politik dan milisi sering memanfaatkan identitas
Sunni atau Syiah sebagai basis legitimasi dan mobilisasi massa.
Namun demikian, penting
untuk dicatat bahwa konflik Sunni–Syiah tidak selalu mencerminkan hubungan
sehari-hari antara komunitas Muslim. Dalam banyak masyarakat Muslim, komunitas
Sunni dan Syiah hidup berdampingan secara relatif damai selama berabad-abad.
Sejarah Islam mencatat banyak periode di mana interaksi intelektual dan sosial
antara ulama Sunni dan Syiah berlangsung secara produktif, termasuk dalam
bidang teologi, filsafat, dan hukum Islam (Lapidus, 2014). Hal ini menunjukkan
bahwa konflik sektarian tidak bersifat deterministik atau tidak terhindarkan,
melainkan sangat dipengaruhi oleh kondisi politik dan sosial tertentu.
Dalam konteks
globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, dinamika konflik Sunni–Syiah
juga mengalami transformasi baru. Media sosial dan jaringan komunikasi digital
memungkinkan penyebaran propaganda sektarian secara lebih cepat dan luas
dibandingkan sebelumnya. Narasi konflik, video kekerasan, maupun literatur
polemik dapat menyebar secara viral dan memperkuat persepsi negatif antara
kelompok Sunni dan Syiah. Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik sektarian di
era modern tidak hanya berlangsung di medan politik atau militer, tetapi juga
di ruang informasi dan komunikasi publik (Lynch, 2013).
Meskipun demikian,
sejumlah akademisi menekankan bahwa masa depan hubungan Sunni–Syiah sangat
bergantung pada kemampuan masyarakat Muslim untuk membangun narasi sejarah dan
identitas yang lebih inklusif. Banyak ulama dan intelektual Muslim modern telah
menyerukan dialog antar mazhab serta menekankan kesamaan teologis antara Sunni
dan Syiah sebagai dasar persatuan umat Islam. Upaya-upaya ini mencerminkan
kesadaran bahwa konflik sektarian tidak hanya merugikan stabilitas politik
dunia Muslim, tetapi juga melemahkan posisi umat Islam secara global dalam
menghadapi tantangan modernitas, pembangunan ekonomi, dan hubungan
internasional (Nasr, 2006).
Dengan demikian,
perpecahan antara Sunni dan Syiah tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai
konflik teologis semata. Sejarah menunjukkan bahwa konflik tersebut merupakan
hasil interaksi kompleks antara faktor sejarah, politik, propaganda, identitas sosial,
dan kepentingan kekuasaan. Narasi sektarian sering kali diperkuat oleh aktor
politik yang memiliki kepentingan tertentu, sementara pengalaman hidup
masyarakat Muslim sehari-hari menunjukkan bahwa koeksistensi antara Sunni dan
Syiah sebenarnya sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, analisis ilmiah
mengenai konflik ini perlu mempertimbangkan dimensi sejarah, politik, dan
sosial secara simultan, sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih
komprehensif mengenai dinamika hubungan Sunni–Syiah dalam dunia Islam
kontemporer.
Referensi
- Dodge, T. (2012). Iraq: From War to a New Authoritarianism. London: Routledge.
- Halm, H. (2004). Shi‘a Islam: From Religion to Revolution. Princeton: Markus Wiener Publishers.
- Lapidus, I. M. (2014). A History of Islamic Societies (3rd ed.). Cambridge: Cambridge University Press.
- Lynch, M. (2013). The Arab Uprising: The Unfinished Revolutions of the New Middle East. New York: PublicAffairs.
- Madelung, W. (1997). The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate. Cambridge: Cambridge University Press.
- Nasr, V. (2006). The Shia Revival: How Conflicts within Islam Will Shape the Future. New York: W.W. Norton & Company.
- Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. In W. G. Austin & S. Worchel (Eds.), The Social Psychology of Intergroup Relations. Monterey: Brooks/Cole.





