Polarisasi Sunni dan Syiah Untuk Kepentingan Kekuasaan

by - Maret 06, 2026

Sumber Foto: aswajadewata.com

“Bagi Muslim Syiah, peristiwa Karbala pada tahun 680 M merupakan titik penting yang membentuk identitas politik, tragedi tersebut sebagai simbol perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan kekuasaan. Di banyak wilayah dunia Muslim, konflik Sunni–Syiah juga diperkuat oleh struktur politik negara yang tidak stabil dan sering kali diperbesar oleh kepentingan politik penguasa.”

Perpecahan antara komunitas Muslim Sunni dan Syiah merupakan salah satu fenomena sosial-politik dan teologis paling panjang dalam sejarah Islam. Walaupun secara teologis kedua kelompok tersebut memiliki fondasi keimanan yang relatif sama—yaitu kepercayaan kepada Al-Qur’an, Nabi Muhammad, serta prinsip dasar Islam—perbedaan dalam persoalan kepemimpinan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad telah berkembang menjadi konflik identitas, politik, dan ideologi yang berpengaruh besar dalam sejarah dunia Islam hingga masa modern. Banyak studi menunjukkan bahwa konflik Sunni–Syiah tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh dinamika kekuasaan, propaganda politik, serta kepentingan geopolitik yang berkembang sepanjang sejarah Islam (Nasr, 2006).

Akar historis perpecahan Sunni dan Syiah umumnya ditelusuri pada perdebatan mengenai siapa yang berhak memimpin komunitas Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M. Sebagian sahabat Nabi mendukung Abu Bakar sebagai khalifah pertama melalui mekanisme musyawarah di Saqifah, sementara kelompok lain meyakini bahwa kepemimpinan seharusnya diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi (Madelung, 1997). Kelompok yang mendukung Ali kemudian dikenal sebagai “Shi‘at Ali” atau pengikut Ali, yang kemudian berkembang menjadi komunitas Syiah. Sebaliknya, kelompok yang menerima legitimasi kepemimpinan khalifah awal tanpa memandang garis keturunan tertentu berkembang menjadi mayoritas Muslim yang kemudian dikenal sebagai Sunni (Madelung, 1997). Pada tahap awal sejarah Islam, perbedaan tersebut belum sepenuhnya berkembang menjadi konflik teologis yang tajam, namun dinamika politik pada masa kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah secara bertahap memperkuat identitas sektarian tersebut.

Peristiwa Karbala pada tahun 680 M merupakan titik penting yang membentuk identitas politik dan religius Syiah. Dalam peristiwa tersebut, Husain bin Ali—cucu Nabi Muhammad—terbunuh bersama pengikutnya setelah menolak legitimasi kekhalifahan Yazid bin Muawiyah dari dinasti Umayyah. Bagi komunitas Syiah, tragedi Karbala tidak hanya dipandang sebagai konflik politik, tetapi juga sebagai simbol perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan kekuasaan (Halm, 2004). Narasi tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam ritual keagamaan Syiah, khususnya dalam peringatan Asyura. Sementara itu, dalam tradisi Sunni, peristiwa Karbala tetap dipandang sebagai tragedi sejarah, namun tidak selalu memiliki makna teologis yang sama sebagaimana dalam tradisi Syiah (Nasr, 2006). Perbedaan interpretasi sejarah ini berkontribusi pada pembentukan identitas kolektif yang berbeda antara kedua komunitas tersebut.

Namun demikian, sejumlah peneliti menegaskan bahwa konflik Sunni–Syiah sering kali diperbesar oleh kepentingan politik penguasa sepanjang sejarah Islam. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah misalnya menggunakan legitimasi religius untuk memperkuat kekuasaan politik mereka, yang pada akhirnya memperdalam polarisasi antara kelompok Sunni dan Syiah (Lapidus, 2014). Dalam banyak kasus, perbedaan teologis digunakan sebagai alat propaganda untuk mendeligitimasi lawan politik. Hal ini menunjukkan bahwa konflik sektarian dalam sejarah Islam tidak dapat dipahami semata-mata sebagai konflik teologis, melainkan juga sebagai manifestasi dari perjuangan kekuasaan dan legitimasi politik.

Pada periode modern, dinamika konflik Sunni–Syiah semakin kompleks karena dipengaruhi oleh perkembangan negara bangsa, geopolitik regional, dan persaingan ideologi politik. Revolusi Iran tahun 1979, misalnya, memberikan dimensi baru dalam hubungan Sunni–Syiah karena untuk pertama kalinya sebuah negara modern secara eksplisit mengadopsi sistem pemerintahan berbasis doktrin Syiah. Revolusi tersebut tidak hanya mengubah struktur politik Iran, tetapi juga mempengaruhi persepsi politik di dunia Muslim, khususnya di negara-negara mayoritas Sunni yang memandang revolusi tersebut sebagai tantangan ideologis terhadap tatanan regional (Nasr, 2006). Akibatnya, ketegangan antara negara-negara yang diasosiasikan dengan identitas Sunni dan Syiah sering kali diterjemahkan ke dalam konflik geopolitik yang lebih luas.

Propaganda memainkan peran penting dalam memperkuat perpecahan tersebut. Dalam banyak kasus, media, kelompok politik, maupun aktor negara menggunakan retorika sektarian untuk memobilisasi dukungan politik atau memperkuat identitas kelompok. Studi mengenai konflik Timur Tengah menunjukkan bahwa retorika sektarian sering kali digunakan untuk menciptakan solidaritas internal sekaligus mendemonisasi kelompok lain (Lynch, 2013). Melalui propaganda tersebut, konflik politik atau geopolitik sering dipresentasikan sebagai konflik teologis antara Sunni dan Syiah, meskipun akar permasalahannya sering kali berkaitan dengan perebutan kekuasaan atau kepentingan strategis.

Selain propaganda politik, faktor sosial dan psikologis juga memainkan peran dalam mempertahankan perpecahan tersebut. Identitas keagamaan sering kali menjadi bagian dari identitas kolektif yang kuat dalam masyarakat Muslim, sehingga perbedaan teologis dapat dengan mudah dimobilisasi untuk menciptakan solidaritas kelompok. Menurut teori identitas sosial, individu cenderung mengidentifikasi diri dengan kelompok tertentu dan membedakan diri dari kelompok lain, terutama ketika identitas tersebut dikaitkan dengan sejarah konflik atau ketidakadilan (Tajfel & Turner, 1979). Dalam konteks Sunni–Syiah, narasi sejarah, ritual keagamaan, serta literatur polemik telah berkontribusi pada pembentukan batas identitas yang relatif kuat antara kedua komunitas tersebut.

Di banyak wilayah dunia Muslim, konflik Sunni–Syiah juga diperkuat oleh struktur politik negara yang tidak stabil. Negara-negara dengan sistem politik yang lemah atau otoriter sering kali memanfaatkan identitas sektarian sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan atau mengalihkan perhatian publik dari persoalan ekonomi dan sosial. Beberapa studi tentang konflik Irak pasca invasi Amerika Serikat tahun 2003 menunjukkan bahwa kehancuran struktur negara membuka ruang bagi mobilisasi identitas sektarian yang sebelumnya relatif terkendali (Dodge, 2012). Dalam situasi tersebut, kelompok politik dan milisi sering memanfaatkan identitas Sunni atau Syiah sebagai basis legitimasi dan mobilisasi massa.

Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa konflik Sunni–Syiah tidak selalu mencerminkan hubungan sehari-hari antara komunitas Muslim. Dalam banyak masyarakat Muslim, komunitas Sunni dan Syiah hidup berdampingan secara relatif damai selama berabad-abad. Sejarah Islam mencatat banyak periode di mana interaksi intelektual dan sosial antara ulama Sunni dan Syiah berlangsung secara produktif, termasuk dalam bidang teologi, filsafat, dan hukum Islam (Lapidus, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa konflik sektarian tidak bersifat deterministik atau tidak terhindarkan, melainkan sangat dipengaruhi oleh kondisi politik dan sosial tertentu.

Dalam konteks globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, dinamika konflik Sunni–Syiah juga mengalami transformasi baru. Media sosial dan jaringan komunikasi digital memungkinkan penyebaran propaganda sektarian secara lebih cepat dan luas dibandingkan sebelumnya. Narasi konflik, video kekerasan, maupun literatur polemik dapat menyebar secara viral dan memperkuat persepsi negatif antara kelompok Sunni dan Syiah. Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik sektarian di era modern tidak hanya berlangsung di medan politik atau militer, tetapi juga di ruang informasi dan komunikasi publik (Lynch, 2013).

Meskipun demikian, sejumlah akademisi menekankan bahwa masa depan hubungan Sunni–Syiah sangat bergantung pada kemampuan masyarakat Muslim untuk membangun narasi sejarah dan identitas yang lebih inklusif. Banyak ulama dan intelektual Muslim modern telah menyerukan dialog antar mazhab serta menekankan kesamaan teologis antara Sunni dan Syiah sebagai dasar persatuan umat Islam. Upaya-upaya ini mencerminkan kesadaran bahwa konflik sektarian tidak hanya merugikan stabilitas politik dunia Muslim, tetapi juga melemahkan posisi umat Islam secara global dalam menghadapi tantangan modernitas, pembangunan ekonomi, dan hubungan internasional (Nasr, 2006).

Dengan demikian, perpecahan antara Sunni dan Syiah tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai konflik teologis semata. Sejarah menunjukkan bahwa konflik tersebut merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor sejarah, politik, propaganda, identitas sosial, dan kepentingan kekuasaan. Narasi sektarian sering kali diperkuat oleh aktor politik yang memiliki kepentingan tertentu, sementara pengalaman hidup masyarakat Muslim sehari-hari menunjukkan bahwa koeksistensi antara Sunni dan Syiah sebenarnya sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, analisis ilmiah mengenai konflik ini perlu mempertimbangkan dimensi sejarah, politik, dan sosial secara simultan, sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dinamika hubungan Sunni–Syiah dalam dunia Islam kontemporer.


Referensi

  • Dodge, T. (2012). Iraq: From War to a New Authoritarianism. London: Routledge.
  • Halm, H. (2004). Shi‘a Islam: From Religion to Revolution. Princeton: Markus Wiener Publishers.
  • Lapidus, I. M. (2014). A History of Islamic Societies (3rd ed.). Cambridge: Cambridge University Press.
  • Lynch, M. (2013). The Arab Uprising: The Unfinished Revolutions of the New Middle East. New York: PublicAffairs.
  • Madelung, W. (1997). The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Nasr, V. (2006). The Shia Revival: How Conflicts within Islam Will Shape the Future. New York: W.W. Norton & Company.
  • Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. In W. G. Austin & S. Worchel (Eds.), The Social Psychology of Intergroup Relations. Monterey: Brooks/Cole. 

You May Also Like

0 comments